nagiest

Memberi adalah sebuah komunikasi yang terbaik

nagiest

Cara terbaik dalam menasihati anak-anakmu adalah mencari tahu apa yang mereka inginkan dan lalu nasehatilah mereka bagaimana melakukannya

nagiest

Tidak ada yang sia-sia jika kita melakukan sesuatu untuk anak-anak. Mereka sepertinya tidak memperhatikan kita, mengalihkan pandangan dan jarang berterima kasih, tapi apa yang kita lakukan untuk mereka tidak pernah sia-sia

nagiest

Anda memiliki waktu seumur hidup untuk bekerja, Namun anak-anak hanya memiliki masa kecil sekali

nagiest

Anak terlahir ke dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasan, bawaan hidup ini jangan sekalipun didustakan

Tampilkan postingan dengan label KISAH-KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH-KISAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

LET'S KICK RACISM

Seorang wanita kulit putih tiba di kursinya dalam sebuah penerbangan penuh sesak dan tiba2 saja dia tidak mau kursi tsb. Kursi tsb berada di samping seorang pria berkulit hitam. Merasa jijik, perempuan itu segera memanggil pramugari dan menuntut kursi baru. Wanita itu berkata 'Aku tidak bisa duduk di sini di sebelah pria kulit hitam ini. Pramugari berkata "baik, coba saya lihat dulu apakah saya bisa menemukan kursi lainnya."

Setelah memeriksa, pramugari kembali dan menyatakan "Bu, sudah tidak ada lagi kursi di kelas bisnis, tapi saya akan memeriksa dengan Kapten dan melihat apakah ada sesuatu di kelas utama." 

Sekitar 10 menit berlalu dan pramugari kembali dan menyatakan "Kapten telah mengkonfirmasi bahwa tidak ada lagi kursi di kelas bisnis, tapi ada satu di kelas utama. Sudah jadi kebijakan perusahaan kami untuk tidak pernah memindahkan seseorang dari kelas bisnis ke kelas utama, tetapi akan menjadi semacam perbuatan yang tidak menyenangkan jika kami memaksa orang untuk duduk di sebelah orang yang tidak menyenangkan, Kapten setuju untuk mengalihkannya ke kelas utama." 

Sebelum wanita sempat berkata apapun, pramugari memberikan isyarat kepada laki-laki kulit hitam tersebut dan berkata, "oleh karena itu pak, jika Anda bersedia silakan mengambil barang-barang pribadi Anda, kami ingin memindahkan Anda ke kenyamanan kelas utama berhubung kapten tidak mau Anda duduk di samping orang yang tidak menyenangkan." 

Penumpang di kursi terdekat mulai bertepuk tangan sementara yang lainnya berdiri sambil bertepuk tangan.

LET'S KICK RACISM

Ada seorang anak perempuan yang sedang sibuk bermain, dihadapan anak tersebut ayahnya sedang duduk membaca koran , tiba2 putri kecilnya bertanya : “ ayah... temanku tadi cerita kalau ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa ayah juga akan berbuat yang sama? ”
Mendengar pertanyaan itu sang ayah tertawa dan menjawab : “ Nggak ... Tapi, ayah akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu dan semua keluarga kita.”,
si anak tersenyum dan kembali meneruskan kegiatan bermainnya. Tak berapa lama kemudian, si anak mengendap-ngendap duduk disamping ayahnya. Ternyata mendadak ia teringat sesuatu. “ayah..., aku waktu itu pernah dengar cerita ada ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Kalau ayah bagaimana?” Anak itu mengajukan pertanyaan yang hampir sama. Sang ayah melipat korannya memandang wajah putrinya dan menjawab dengan suara lebih tegas, “hem.... ayah akan bekerja keras agar kita semua bisa makan sampai kenyang. Jadi, kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ayahmu menahan lapar.”
Si anak kembali tersenyum, dan lalu memeluk ayahnya dengan penuh sayang. “Makasih ayah.... Aku
bisa selalu bersandar pada ayah”
Sembari mengusap-usap rambut anaknya, sang ayah membalas, “Tidak, sayang! Tapi ayah akan
mendidikmu supaya bisa berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu nantinya tidak sampai
jatuh tersungkur ketika ayah sudah tidak ada lagi di sisimu. Karena tidak selamanya ayah bisa
mendampingimu.”

Ada berapa banyak orangtua di antara kita yang sering kali merasa harus dan rela berkorban diri demi sang buah hati? Tidak sadarkah kita bahwa sikap seperti itu bisa menumpulkan mental pemberani si anak?
Jadi, adalah bijak bila semua orangtua tidak hanya menjadikan dirinya tempat bersandar bagi buah hati mereka, melainkan juga membuat sandaran itu tidak lagi diperlukan di kemudian hari. 
Adalah bijak jika para orangtua membentuk anak-anaknya sebagai pribadi mandiri kelak disaat orangtua itu sendiri tidak bisa lagi mendampingi anak-anaknya di dunia.   



diambil dari status fb nya Muhsin Sahab

Senin, 15 Juli 2013

EDOARDO AGNELLI. Putra Mahkota Kerajaan Fiat Yang Akhirnya Terbunuh Karena Keyakinannya



Giovanni Agnelli yang lebih dikenal dengan nama Gianni ini adalah generasi ketiga Agnelli. Orang di italia menyebutnya IL Re,atau sang Raja. Gianni memiliki seorang putra bernama Edoardo.dan Edoardo adalah putra pertamanya, sosok yang dikenal di mata orang-orang italia sebagai Putra Mahkota dari pemilik perusahaan otomotif terbesar di Italia yakni Fiat. Fiat terkenal sebagai industry otomotif yang menghasilkan mobil mobil mewah seperti Ferrari, Alfa Romeo, Lancia dan Lamborghini.

Sebagai putra Mahkota dari keluarga Agnelli, Edoardo telah merasakan bagaimana nikmatnya hidup serba mewah dan berkelimpahan harta sejak dirinya dilahirkan ke dunia. Tapi ternyata bukan hal ini yang diinginkan dari kehidupannya, bukan kekayaan dan ketenaran yang dicari. Setelah mengerti apa arti dari kehidupan, Edoardo merasakan kalau kehidupan yang sedang dijalaninya adalah kehidupan yang menjenuhkan,tidak membuat hatinya tentram dan membuatnya bertambah beban semakin berat saja. Aturan-aturan kebangsawanan yang diterapkan untuk setiap anggota keluarga Agnelli membuatnya semakin jauh dari arti kehidupan sebenarnya yang sedang dia cari.

Kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang baru dan tidak membosankan telah lama dipikirkan oleh seorang Edoardo. Pada akhir dekade 70 an , setelah menyelesaikan sekolahnya di inggris, edoardo memutuskan untuk melanjutkan studinya di Princeton yang sangat terkenal di Amerika, dan mengambil jurusan Filsafat, sesuatu yang tidak pernah disetujui oleh ayahnya yang menginginkan anak putra satu-satunya mengikuti jejak sang ayah dengan belajar bisnis. Disinilah awal mula Edoardo berkenalan dengan agama Islam.

Adalah sebuah krisis Iran pasca Revolusi Islam, yang membuat edoardo lebih tertarik ke dalam dunia Islam lebih dalam lagi. Suatu hari dia menyaksikan acara debat politik di televisi. Tema yang mereka bahas adalah tema “panas” pada saat itu: krisis di Iran pasca-Revolusi Islam. Ada empat tamu dalam acara itu. Tiga wartawan dan seorang jubir Kedubes Iran di Roma, bernama Hassan Ghadiri Abyaneh.

Abyaneh mendapat giliran bicara yang pertama. Dalam bahasa Italia, dan dengan penuh keyakinan ia berucap, “Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan Nama Tuhan yang Lebih Besar dari kapal-kapal induk Amerika.” Kalimat itu membuat studio seperti tersihir, kamera seperti membeku, begitu pula Eduardo di depan televisi. Ketika debat usai, keputusan Eduardo sudah bulat: dia harus mendatangi rumah Abyaneh di Roma. Abyaneh mengenangnya dengan perkataan, “Dia datang dengan skuter butut.” Seolah-olah dia ingin dikenal sebagai orang biasa, meski bisa saja datang dengan membawa Ferrari.

Kepada satpam dia mengenalkan diri dengan nama Eduardo. Dia mengatakan kenal Abyaneh di televisi, dan ingin berdiskusi sekaligus meminjam buku-buku tentang Imam Khomeini, pemimpin besar Revolusi Islam Iran. Jawaban yang diterima awalnya negatif. Tuan rumah sedang tidak ingin diganggu karena akhir pekan adalah waktu keluarga. Sekali lagi Eduardo menitip pesan kepada tuan rumah melalui satpam; yaitu: “Pintu Tuhan tak pernah tertutup.” Segera Abyaneh keluar rumah dengan wajah bersalah. Persahabatan pun dimulai.

Abyaneh kini tau bahwa Eduardo juga seorang muslim. Ia mengenal Islam saat kuliah di Universitas Princeton jurusan Filsafat dan Kajian Agama. Setelah membaca terjemahan Alquran berbahasa Inggris ia masuk Islam, namun disembunyikan dari publik. Dalam surat-suratnya ia menggunakan nama Hisham Aziz, namun dengan teman-teman Irannya ia menggunakan nama sebagai seorang Syiah, Mahdi.

Bagi Eduardo, Abyaneh adalah pintu masuknya ke Iran, bertemu dengan ulama berserban. Dia pun terbang ke Iran dan salat Jumat di belakang Ali Khamenei-pemimpin spiritual Iran sekarang.

Saat pers Barat mencitrakan Imam Khomeini sebagai diktator haus darah, Eduardo malah menemui beliau. Mantan presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, mengisahkan bahwa Imam Khomeini sempat mengecup kening Eduardo dan menasehati: “Banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati.”
Eduardo menemukan kedamaian dalam Islam yang seperti itu dari sekali membaca Alquran. Dia pernah bercerita:

“Suatu hari di New York pada saat saya berada di perpustakaan, saya sedang mencari-cari buku yang saya perlukan. Tanpa sengaja mata saya tertuju pada sebuah copy Alquran, sungguh saat itu saya sangat ingin tahu dan penasaran dengan kitab tersebut dan ingin mengetahui apa yang ditawarkan oleh kitab tersebut.
Akhirnya saya mengambil kitab tersebut dan mulai membaca terjemahaannya dalam bahasa Inggris. Sungguh pada saat saya membacanya tulisan dan ungkapan-ungkapan di kitab ini mempunyai sesuatu kekuatan dan petunjuk di dalamnnya, dan semua itu tidak mungkin dapat ditulis oleh seorang manusia. Saya sangat kagum dengan ungkapan-ungkapan di dalam kitab ini dan tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam, jadi saya meminjamnya dan mempelajarinya. Makin dalam saya membaca makin saya mempercayainya dan mengerti makna semua kata-katannya.”

Hubungan dengan Abyaneh pun kian erat. Namun dengan keluarga semakin menegang. Saat Eduardo mengunjungi Mashhad dan berziarah ke makam Imam Ali Ridha ia berdoa, “Aku hanya inginkan cinta dan kasih ayahku selalu ada untukku ke depan.” Namun ayahnya, Gianni, yang tahu bahwa Eduardo berkiblat ke Tehran, menyatakan di media kalau Eduardo tak layak menjadi petinggi Fiat. Lebih buruk lagi ketika Eduardo di fitnah sebagai “gila” dan “pecandu narkotika” yang dibuat keluarganya sendiri.Ia sendiri pernah berkata kepada teman-teman Irannya bahwa setelah kematian ayahnya keluarga besarnya pasti akan membunuhnya. Ketika ia pergi ke Afrika, kalau tidak salah Kenya, ia dituduh membawa heroin seberat 300 kilo gram. Padahal menurut dia kejadiannya tidak demikian. Suatu saat dia melihat dua orang Australia sedang memakai heroin dan mengajarkan orang-orang setempat untuk memakainya. Ia melarang mereka untuk mengajari penduduk setempat. Bungalow tempat ia tinggal, kamarnya tidak terlalu jauh dengan kedua orang tersebut. Koran-koran Italia, yang kebanyakan punya keluarganya sendiri, mengabarkan dan membesar-besarkan hal itu agar dia tidak dipilih menjadi direkturnya. Ternyata ketika disidang tidak terbukti dia membawa Heroin. Namun, koran Italia tidak memuat berita itu.

Dalam diskusinya dengan teman-teman Irannya, ia sering pulang pergi ke Iran. Yang menarik perjalanan pertamanya ke Iran dan pertemuannya dengan Imam Khomeini RA. Hanya ia satu-satunya orang bule yang dicium dahinya. Kejadian ini sangat membekas dalam dirinya. Rafsanjani sendiri dalam salah satu bukunya hanya dua baris menjelaskan kedatangan Edoardo ke Iran dan pertemuannya dengan Imam Khomeini RA.


Entah mengapa Edoardo begitu mencintai Iran. Disaat Negara seperti amerika yang telah menyatakan bahwa iran adalah sebuah Negara yang haus darah, dan saat dimana Iran dicecar di seluruh pelosok bumi, Seorang putra mahkota justru sebaliknya. Rasa penasaran yang besar ingin mengetahui siapa diri seorang Khomeini dan revolusi islam telah menguatkan dirinya untuk segera berhadapan langsung dengan orang yang selalu dicarinya.

Berkali-kali edoardo terlihat duduk tak jauh dari tempat dimana seorang guru besar islam Iran Khomeini berada. Mereka beberapa kali melakukan shalat jumat bersama di beberapa mesjid terkenal di Iran. Dan keramahan yang dirasakan edoardo disaat Khomeini menciumnya seperti keluarganya membuat dirinya semakin kerasan berada di tempat yang entah berantah tidak pernah dikenal sebelumnya.

Selama di Iran, edoardo banyak mempelajari Hal baru. Edoardo lebih sering membaca buku kitab suci Al quran dan belajar sejarah mengenai Nabi Muhammad , sesuatu yang lebih dia gemari dan dia pilih ketimbang menghabiskan waktu bersama para pemain juventus, ataupun kebut-kebutan di jalan dengan mobil-mobil mewah milik keluarganya. Edoardo adalah seorang lelaki putra mahkota italia yang telah menemukan arti pentinganya sebuah kebesaran agama islam. Edoardo telah menemukan apa yang di inginkannya. Dia pernah mengungkapkan ke beberapa teman dekatnya.bahwa hidupnya telah dilahirkan baru. Dan dirinya sungguh merasakan kebahagiaan yang tak mungkin diraihnya selama dia masih berada di genggaman keluarga Agnelli. Edoardo diyakini telah menjadi seorang muslim sejati.

Sebuah akhir yang begitu sempurna yang dirasakan edoardo, tapi tidak dengan keluarga Agnelli. Keluarganya yang akhirnya tahu bahwa edoardo sungguh serius telah menjauhi keluarga agnelii demi sebuah ajaran Islam, marah besar. Bagi Gianni Agnelli ini adalah sebuah Fakta yang sulit diterima. Keluarga yang begitu terpandang di seluruh italia, sebuah keluarga yang taat akan ajaran tradisi agama Katolik, dan salah satu penyumbang dana terbesar ke Vatikan, dan pilihan edoardo untuk pindah ajaran agama adalah sebuah penyelewengan yang tidak bisa dimaafkan.

Akhirnya pemilihan direktur perusahan keluarga pun dilaksanakan yang terpilih bukan Edoardo tapi anak pamannya, sekalipun ia adalah pewaris satu-satunya. Edoardo setuju dan tidak menunjukkan penolakannya. Namun, ketika beberapa bulan kemudian anak pamannya dalam kejadian misterius meninggal dan akhirnya anak dari kakaknya dari suami kedua yang nota bene adalah Yahudi, Edoardo menunjukkan ketidaksetujuannya.

Di sela-sela penunjukkan sikap ketidaksetujuannya, pada masa-masa akhir dari kehidupannya ia berkeinginan untuk belajar di Qom memperdalam agama lagi. Ia berkata, sebagaimana dinukil oleh teman Irannya, membaca Al-Quran memang memiliki rasa tersendiri. Membaca dan memahaminya dengan bahasa terjemahan juga berbeda, namun bila saya dapat membaca dengan bahasa aslinya akan lebih baik.

Namun, keinginan itu akhirnya tinggal keinginan. Ia kemudian di bunuh dengan keji. Media Italia menyebutkan bahwa ia bunuh diri. Ia menjatuhkan dirinya dari sebuah jembatan layang. Teman-teman Irannya menyangkal kalau dia bunuh diri. Beberapa hari sebelumnya mereka masih asik dengan Edoardo dalam membicarakan Islam dan keinginannya untuk belajar ke Iran. Bahkan ia sempat menafsirkan sebuah ayat Al-Quran.
Sebuah harga yang sungguh mahal harus dibayar oleh seorang Edoardo.dan membayarnya dengan sebuah nyawa. Kesedihan dan kehancuran yang telah dirasakannya sejak kecil yang dibangun oleh kerajaan agnelli telah dibawa pergi oleh sebuah kematian. Kematian yang berujung sebuah kontroversi. Sebuah cerita yang berakhir dengan penuh tanda Tanya besar. Kematian yang ditangisi banyak orang di iran begitu juga kebingungan dan kecemasan yang dirasakan warga turin.

Tepatnya pada 15 november 2000, sebuah jasad manusia di temukan di kaki jembatan Generale Franco Romano yang memiliki ketinggian 80 meter. Polisi setempat meyakini setelah mengenali wajah lelaki tersebut adalah Edoardo Agnelii. Putra mahkota keluarga Gianni Agnelli. Di Koran-koran italia banyak yang mengungkapkan bahwa edoardo telah melakukan aksi bunuh diri, sesuatu hal yang tidak pernah dilakukannya. Karena hasil penelitian mengungkapkan, disaat jasad edoardo di temukan, wajah serta tulang badannya masih utuh dan tidak ada yang patah. Bagaimana mungkin bahwa seorang lelaki dengan berat badan 120 kilogram melompat dari ketinggian 80 meter yang akan menghujam tanah kurang lebih dengan kecepatan 150 kilometer perjam tidak mengalami patah tulang? Itulah isyarat jelas bahwa edoardo tidak pernah melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari jembatan Generale Franco Romano.

Apalagi jembatan Generale Franco Romano terkenal sangat ramai sekali, setidaknya ada kendaraan yang lewat selang 5-10 detik, terlebih lagi wajah edoardo yang cukup dikenali oleh setiap warga turin. Bagaimanapun wajahnya akan dikenali seseorang yang melintas bilamana edoardo berusaha menaiki badan jembatan dan kemudian melompat.dan sungguh aneh bila tak ada satupun orang yang akan memberikan kesaksian di hari saat edoardo bunuh diri.

Kejanggalan seputar kematian edoardo telah membuat resah warga italia. pasalnya banyak hasil investigasi yang sangat menyimpang, banyak hal yang tidak masuk akal terjadi. Dan permainan kotor para pihak yang bertanggung jawab atas jasad edoardo pun mulai jelas terlihat. Misalnya keharusan otopsi yang sepantasnya dilakukan tim medis tidak pernah dilakukan. Permainan kotor yang tidak begitu sempurna ini semakin terasa oleh public italia yang menyebutnya dengan “kebodohan dan kecerobohan keluarga Mafia”.

Kematian edoardo membuahkan pelajaran penting dalam kehidupan, ’di saat kau telah menemukan apa yang menurutmu benar, hal itu patut diperjuangkan walau sebuah nyawa harus dipertaruhkan.

SELAMAT JALAN EDOARDO.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ










Jumat, 12 Juli 2013

KISAH PENUH KHIKMAH


Sebuah pelajaran yang sangat berharga dapat kita petik dari sebuah cerita dibawah ini. Saya mendapatkannya ketika di tag dihalaman fb saya oleh seorang teman dengan nama profilnya ben hushyar bafagih.

seorang gadis duduk di sebuah kafe sambil menunggu calon suaminya/Tunangannya yg telah berjanji utk bertemu di kafe tsb.
sebelum tunangannya datang, dia melihat di hadapannya ada seorang pemuda yg senantiasa memandanginya dengan senyuman.
gadis tersebut berusaha menjaga kehormatannya dengan tidak meladeni pandangan si pemuda.
tak berapa lama setelah meneguk teh yg ada dihadapannya dia melihat utk yg kedua kalinya pemuda tsb memandanginya.
ketika tunangannya datang dia memberitahukan apa yg terjadi.
tunangannya langsung berdiri menghampiri pemuda tsb dan dengan keras memukulnya.
gadis itu pun senang karena tunangannya menjaga kehormatannya dengan memukul lelaki yang senantiasa memandanginya.
kemudian mereka berdua pun keluar dari kafe.

setelah mereka berdua keluar pelayan kafe membantu pemuda tersebut utk berdiri dan memakaikan kaca mata hitamnya. dengan kesakitan pemuda itu pun pergi dengan menggunakan tongkatnya untuk menuntunnya menelusuri jalan.
_________________________________________

banyak orang yg merasa dirinya benar kemudian tanpa menyelidiki apa yang terjadi dan tanpa mencaritahu sebab-sebab yang ada, mereka menghukum orang-orang yang tak bersalah.
dilihat dari awal ceritanya si gadis merasa sudah dijalan yang benar,dia sudah benar ketika tidak meladeni orang yang dia kira tersenyum kepadanya,lalu melaporkan kepada tunangannya. disinilah letak kesalahannya. seharusnya si gadis tau dulu yang sebenarnya sebelum melaporkan kepada tunangannya,karena akibat dari laporannya si buta tersebut mendapat sebuah pukulan dari tunangannya. Tunangannya pun merasa benar karena merasa sudah membela kehormatan kekasihnya, tetapi ternyata di sebenarnya juga salah karena hanya menelan mentah-mentah laporan dari kekasihnya tanpa lagi mencari tau keadaan yang sebenarnya. oleh karena itu kita tidak boleh menghakimi kejadian apapun tanpa kita mengetahui hal yang sebenarnya.

Kamis, 11 Juli 2013

LOVE YOU DAD...


Dan hak ayahmu adalah bahwa kau harus tahu bahwa ia adalah akar mu dan kamu adalah cabangnya. Dan tanpa dia, kamu bukanlah apa-apa. Setiap kali kamu melihat sesuatu dalam diri sendiri yang menyenangkanmu, kamu harus tahu bahwa ayahmu yang menjadi akar dari  segala keberkahan yang kau dapatkan. Jadi berdoalah kepada Allah dan bersyukur kepadaNya atas pengakuan itu. Dan tidak ada kekuasaan, kecuali kekuasaan Allah.

Minggu, 29 Juli 2012

Sayidah Zainab as, Perempuan Paling Sabar, melebihi Nabi Ayyub




Kendati Nabi Ayyub as terkenal sebagai orang yang sabar dan beragam musibah berat telah menimpanya, namun kesusahan dan kesedihan ini akhirnya berakhir dan kehidupannya lebih banyak dilalui dengan kesenangan.




Lebih sabar lagi dari Nabi Ayyub as adalah seorang yang kehidupannya dari kecil sampai tua dipenuhi dengan kesedihan. Ia adalah Zainab Kubra binti Ali bin Abi Thalib as, induk segala musibah. Di masa kecil ia menyaksikan segala kezaliman yang dilakukan terhadap ayah dan ibunya. Pasca itu ia sebagai perawat kepala ayahnya yang terbela, ia mencuci hati kakaknya Imam Hasan Mujtaba as yang hancur berkeping-keping dengan air mata. Ia menanggung segala musibah berat dalam tragedi yang sangat menyedihkan, yaitu peristiwa Karbala dan pada saat yang sama semua itu baginya tidak lain hanyalah keindahan.




Siapakah Zainab as?

Ia adalah putri Amirul Mukiminin Ali bin Abi Thalib as dan Fathimah az-Zahra as. Ia bernama Zainab dan dikenal dengan sebutan Aqilah Bani Hasyim dan Shiddiqah Shughra. Julukannya adalah Ummu Kultsum Kubra dan Ummu Abdillah. Berdasarkan riwayat masyhur ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 6 Hq. Ia dinamakan Zainab yang berarti perempuan yang cantik atau hiasan ayah.




Ilmu Sayidah Zainab as

Sayidah Zainab mendapat pendidikan wahyu di pangkuan Ali as dan Fathimah az-Zahra as. Meski ibunya meninggal dunia saat ia masih kanak-kanak, namun di masa yang tidak lama ini ia berhasil menukil hadis dari ibunya. Sanad khotbah Fadak sampai kepadanya dan tidak asing bagi siapapun bahwa penukilan hadis ini, dengan segala kefasihan dan keuniversalannya, menunjukkan kesempurnaan pertumbuhan dan pemahaman serta keilmuannya.




Pidato Sayidah Zainab as selama safari Karbala adalah bukti derajat keilmuan dan kesempurnaannya. Keilmuan yang membangkitkan semua orang sehingga pasca khotbah di Kufah Imam Sajjad as berkata kepada bibinya, "Anti Bihamdillahi Aalimah Ghairu Muallamah Wa Fahimah ghairu Mufahhamah." "Segala puji bagi Allah, Engkau adalah seorang wanita pandai tanpa diajar dan paham tanpa dipahamkan seseorang."




Pengorbanan dan jihad

Ketika Sayidah Zainab as merasa bahwa tanggung jawab besar jihad di jalan Allah berada di pundaknya. Ia meninggalkan segala harta kekayaannya dan siap mendampingi imam zamannya Husein as dengan penuh keberanian dan pengorbanan. Pasca syahadahnya Imam Husein as, ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga jiwa Imam Sajjad as. Oleh karena itu, di bawah kondisi yang paling sulit ia bertahan menghadapi para pezalim. Ia mempermalukan dan mengungkapkan kezaliman serta kejahatan mereka.




Induk Segala Musibah

Pasca peristiwa wafatnya Rasulullah dan Syahadahnya Sayidah Fathimah az-Zahra as, kehidupan Sayidah Zainab dilanjutkan di Kufah sampai ketika Ibnu Muljam dengan pedangnya yang dilumuri racun membela kepala ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib as. Syahadah ayah dan perpisahan dengannya betul-betul sulit bagi putrinya. Karena setelah wafat kakeknya Rasulullah Saw dan syahadah ibunya, hati Zainab bergantung pada ayahnya dan kasih sayang ayahnya-lah yang bisa menenangkan jiwanya yang berduka, namun kini duka perpisahan dengan ayah menambah segala dukanya selama ini. Ia menyaksikan pengkhianatan masyarakat dan konspirasi musuh yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap kakaknya Imam Hasan Mujtaba as.




Setelah menyaksikan perjanjian damai Imam Hasan as dengan Muawiyah, Sayidah Zainab as kembali ke Madinah bersama kakak-kakak dan keluarganya. Wanita pandai Bani Hasyim ini betul betul menyadari bagaimana masyarakat mengorbankan Imam maksum Hasan al-Mujtaba as demi cita-cita dan kemaun kotor mereka. Ia juga merasakan segala kepedihan yang dirasakan oleh Imam Hasan as dan menjadi saksi kesedihan dan syahadah beliau yang terzalimi. Bahkan penghinaan mereka terhadap jenazah Imam Hasan as. Betapa pedihnya hati Zainab menyaksikan dan menganggung semua ini.




Pembawa Pesan Karbala

Periode kehidupan Sayidah Zainab as yang paling gemilang adalah ketika ia mendampingi cinta dan syahadah di sisi Sayid as-Syuhada Imam Husein as.




Meski sejarah kehidupan beliau dari sejak lahir sampai awal keberangkatan Imam Husein as menuju Karbala bisa didapatkan di dalam sejarah secara terpisah-pisah dan masih banyak yang belum diketahui, namun tahun-tahun terakhir kehidupannya sejak ia mendampingi Imam Husein as di Karbala betul-betul jelas dan abadi dalam sejarah.




Bisa dikatakan bahwa keabadian nama Zainab as dalam sejarah terikat dengan kebangkitan Imam Husein as, sebaliknya keabadian kebangkitan Imam Husein as juga terikat dengan pesan Sayidah Zainab as. Karena salah satu sisi kebangkitan Imam Husein as yang paling jelas dan bisa dikaji bersumber dari pesan Sayidah Zainab. Sayidah Zainab as adalah perawi sejarah Kebangkitan Sayid as-Syuhada.




Aqilah Bani Hasyim bergerak bersama sejarah Karbala. Seluruh kejadian dan peristiwanya terkait dengan Sayidah Zainab Kubra as. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kalau sejarah Karbala ini menyangkut sebagian besar dari sejarah kehidupan Imam Husein as, ia juga menyangkut sebagian besar dari sejarah kehidupan Sayidah Zainab as.




Oleh karena itu, kehidupan Sayidah Zainab as tidak bisa dikaji tanpa menyertakan peristiwa Karbala. Meski sebagian dari peristiwa tahun 61 Hq terkait dengan aktifitas politik dan sosial Sayidah Zainab, namun banyak sumber yang menyebutkannya.




Tangisan Jibril atas Musibah Zainab as

Diriwayatkan bahwa setelah lahirnya Sayidah Zainab, Husein as yang masih berusia tiga sampai empat tahun mendatangi kakeknya Rasulullah Saw seraya berkata, "Allah telah memberikan seorang saudara perempuan kepadaku!" Mendengar ucapan itu Rasulullah Saw berubah menjadi sedih dan meneteskan air mata. Husein as bertanya, "Mengapa anda sedih dan menangis? Rasulullah Saw menjawab, "Wahai cahaya mataku! Dengan segera rahasianya akan jelas bagimu."




Sampai pada suatu saat ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Saw sambil menangis dan Rasulullah menanyakan sebab tangisannya. Malaikat Jibril menjawab, "Putri ini dari mulai lahir sampai akhir hidupnya senantiasa menghadapi musibah dan kesedihan. Terkadang ia terkena musibah perpisahan denganmu. Satu masa ia bersedih karena wafat ibunya. Kemudian bersedih karena syahadah saudaranya Hasan. Dan Musibah yang paling menyedihkan adalah musibah tragedi Karbala sehingga badannya membungkuk dan rambut kepalanya memutih."




Rasulullah Saw menangis tersedu-sedu dan menempelkan wajahnya yang penuh dengan air mata ke wajah Zainab. Sayidah Fathimah az-Zahra menanyakan sebab tangisan Rasulullah Saw. Rasulullah menjelaskan sebagian musibah yang akan menimpa Sayidah Zainab kepada Sayidah Fathimah as.




Sayidah Fathimah as bertanya, "Wahai Ayah! Apa pahala orang yang menangisi musibah yang menimpa putriku Zainab? Rasulullah Saw bersabda, "Pahalanya sama dengan pahala orang yang menangisi musibah yang menimpa Hasan dan Husein as. (Khashaish az-Zainabiyah, hal 155 Nasihk at-Tawarikh az-Zainab as) (IRIB Indonesia / ENH)

Imam Ali as dan Musafir Non Muslim



Pada hari itu udara kota Kufah sangatlah nyaman. Angin sepoi bertiup perlahan dari arah kota memberikan ketenangan bagi jiwa dan semangat manusia. Seorang musafir bergerak ke arah kota Kufah. Dia telah melewati perjalanan yang jauh untuk mencapai suatu tempat di sekitar Kufah dan kini ia merasa kelelahan. Dia berpikir sendirian, alangkah menyenangkannya jika dia mempunyai teman seperjalanan, supaya dia punya teman untuk berbicara dan tidak merasa lelah akan perjalanan tersebut. Ketika itu pula, tampak  sesosok tubuh dari kejauhan. Sang musafir merasa gembira dan berkata sendirian, "Aku akan bersabar sampai orang itu datang menghampiriku. Mungkin saja dia bisa menjadi teman seperjalananku."

Sosok dari kejauhan itu akhirnya mendekat. Ternyata seorang lelaki itu berwajah menarik dan bercahaya. Terlihat senyum terukir di bibir lelaki itu. Ketika keduanya berdekatan, mereka saling bertanya khabar. Ternyata, lelaki itu juga akan pergi ke Kufah. Sang musafir yang kesepian tadi merasa gembira karena kini dia memiliki teman seperjalanan.

Lelaki yang baru tiba itu tidak lain dari Imam Ali as. Tetapi, Imam Ali menyembunyikan identitasnya kepada musafir tersebut. Keduanya sama-sama meneruskan perjalanan. Mereka lalui perjalanan bersama itu sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Imam Ali as mengetahui bahwa teman seperjalanannya itu bukan Muslim. Namun, Imam Ali tetap memprlakukannya dengan baik, sampai-sampai lelaki non Muslim itu merasakan persahabatan dan kecintaan terhadap Ali as. Tutur kata dan akhlak Imam Ali sedemikian baiknya sehingga telah meninggalkan kesan kepada lelaki itu, sampai-sampai dia melupakan rasa lelahnya.

Dia lalu berhenti sejenak dan berkata kepada Imam Ali, "Sungguh menakjubkan, kebetulan sejam yang lalu aku memohon teman seperjalanan untuk menemaniku agar beratnya perjalanan ini tidak terasa. Lihatlah betapa Allah telah mengabulkan permintaanku. Sampai kini, aku tidak pernah menemui orang sebaik dan sepintar engkau dalam berbicara."

Imam Ali hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata lelaki ini dan  mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Perjalanan itu berakhir dengan dua arah. Satu jalan ke Kufah yang menjadi tempat tujuan Imam Ali as dan jalan kedua merupakan arah yang dituju lelaki non Muslim itu. Imam Ali tidak mengambil jalan ke arah Kufah dan terus berjalan mengikuti teman seperjalanannya. Lelaki itu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari hal tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menyadarinya dan bertanya, "Sahabatku, engkau telah salah memilih jalan, sewaktu di persimpangan tadi engkau seharusnya memilih jalan ke Kufah."

Imam Ali, "Aku tahu. Tetapi aku ingin mengiringimu sampai engkau menyelesaikan pembicaraanmu." Lelaki itu merasa takjub mendengar ucapan Imam Ali tersebut, lalu berkata, "Akhlakmu sungguh baik sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Sebutkanlah namamu dan apakah pekerjaanmu?"

Imam Ali menjawab, "Sahabatku, aku adalah Ali bin Abi Thalib." Lelaki non Muslim itu yang sudah sering mendengar nama Ali dan mengetahui dia adalah pemimpin umat Islam, amat terkejut. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Dia berkata sendirian, "Ya Tuhanku, sejak tadi hingga kini, ternyata aku sedang bersama khalifah umat Islam dan aku tidak mengetahuinya sama sekali.

Lalu, dia berkata kepada Imam Ali as, "Ketawadhu'an dan kebaikan akhlak Anda memang layak mendapat pujian. Apakah mereka yang dididik dengan ajaran Islam memiliki akhlak seperti Anda?"

Pada saat itu jendela ke arah cahaya dan hakikat terbuka di hadapan matanya. Imam Ali as kemudian menyampaikan ajaran Islam kepada musafir itu. Tidak berapa lama kemudian, dengan bimbingan Imam Ali, dia memeluk agama Islam dan bergabung dengan barisan kaum Mukmin. Dengan demikian, kebaikan, kelembutan, dan sifat baik Imam Ali as telah membuka hati lelaki non Muslim itu untuk menerima kebenaran ajaran Islam.

Rasulullah Saw bersabda, "Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini." (IRIB Indonesia)

Sabtu, 28 Juli 2012

Penemu Angka Nol...


Dunia Eropa / Barat dari dulu s/d sekarang sepertinya mengklaim bahwa Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Eropa / Barat tapi tahukah anda, sejatinya asal Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Timur Tengah yaitu Mesopotamia yang menjadi peradaban tertua di dunia.

Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat

Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.

Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya coba jika angka 0 (nol) tidak ditemukan coba? Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.
angka 0 (nol)
al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini.

Minggu, 01 Januari 2012

Pembagian harta Warisan

Sebelum meninggal, ada seseorang menulis surat wasiat sebagai berikut:

"Saya memiliki 17 unta, dan saya punya 3 anak laki-laki. Bagilah unta saya tersebut kepada anak-anakku, sehingga anak sulung saya, mendapat setengah dari seluruh unta saya (17), anakku yang kedua, mendapatkan 1/3 dari seluruh unta saya (17) dan putra bungsu saya, mendapatkan 1/9 dari seluruh Unta saya (17)."

Setelah orang tersebut meninggal, anak-anaknya kemudian membaca surat wasiat tersebut, dan mereka sangat bingung, dan berkata, "bagaimana kita bisa membagi 17 unta ini.?"

kemudian mereka datang kepada Imam Ali (AS), dan meminta pendapat imam ali (as).

Imam Ali (AS) berkata, "baiklah, aku akan membagi 17 unta tersebut, sesuai dengan surat wasiat yang disebutkan."

kemudian Imam Ali (AS) berkata, "Aku akan meminjamkan satu untaku, sehingga totalnya menjadi 18 (17 +1 = 18), dan memungkinkan untuk membagi unta tersebut, sesuai surat wasiat."

Anak sulung, mendapat 1/2, dari 18 unta = 9
anak Kedua, mendapat 1/3, dari 18 unta = 6
anak Bungsu, mendapat 1/9, dari 18 unta = 2

jumlah unta = 17 (9 + 6 + 2 = 17)

Kemudian Imam Ali (AS) berkata, "Sekarang, aku akan mengambil untaku kembali."

kisah tentang Lima Roti

Zar Bin Hobeish, menceritakan kisah ini: Dua pengembara duduk bersama dan mereka makan roti. pengembara pertama, mempunyai 5 roti; pengembara kedua, mempunyai 3 roti. lalu datanglah Pengembara ketiga, melintas di depan mereka, dan atas permintaan dari pengembara pertama dan pengembara kedua, pengembara ketiga ini diajak untuk bergabung dan menikmati roti mereka. lalu Para pengembara memotong masing-masing roti yang jumlahnya 8, menjadi tiga bagian yang sama. Masing-masing dari pengembara tersebut, makan delapan potongan roti.

Pada saat pengembara ketiga meninggalkan keduanya, ia mengeluarkan uang sebesar 8 dirham, dan diberikan kepada kedua pengembara tersebut, yang telah menawarkan makanan kepadanya. Setelah menerima uang, kedua pengembara itu, mulai berselisih tentang pembagian uang tersebut. Pengembara pertama dengan 5 roti, meminta bagian, berupa uang lima dirham. Pengembara kedua dengan tiga roti, bersikeras membagi uang, menjadi dua bagian yang sama (masing-masing 4 dirham ).

Perselisihan ini akhirnya dibawa kepada Imam Ali (as.).
Imam Ali (as.) meminta pengembara kedua, yang punya 3 roti, untuk menerima uang tiga dirham, karena pengembara pertama, yang punya lima roti, telah lebih adil kepada anda. Pengembara kedua, menolak dan mengatakan bahwa, ia akan bersikeras untuk mendapatkan uang empat dirham.
lalu Imam Ali (as.) menjawab, “Anda hanya berhak memiliki satu dirham. Anda berdua memiliki 8 roti (5+3). Setiap roti dipotong, menjadi tiga bagian yang sama. Oleh karena itu, Anda memiliki 24 bagian yang sama, 8×3 = 24. Tiga roti anda(pengembara yang kedua) menjadi 9 bagian, kemudian dari 9 bagian roti tersebut, telah Anda makan 8 porsi, dan anda hanya memberikan 1 porsi, untuk pengembara ketiga. (3×3)=9; 9-8 = 1.
pengembara pertama, yang memiliki 5 roti, kemudian dipotong menjadi 3 bagian yang sama, jadi 15 porsi. Ia makan 8 porsi, dan sisanya, yaitu 7 porsi, diberikan kepada pengembara ketiga.(5×3)=15; 15-8 = 7.
Jadi, pengembara kedua, harus mendapatkan satu dirham, dan pengembara pertama, harus menerima tujuh dirham.“

Imam Ali dan Matematika

Imam Ali bin Abi Thalib, diberkahi Allah dengan kemampuan matematika yang luar biasa. Berikut ini adalah cerita menarik, tentang kecemerlangan ilmu Imam Ali

Bilangan Bulat dan bilangan Pecahan

Suatu Hari, seorang Yahudi datang kepada Imam Ali (as.), untuk menguji kecerdasan Imam Ali (as.), “aku akan bertanya kepadanya, sebuah pertanyaan yang sulit untuk ia jawab, aku yakin, dia tidak akan mampu menjawabnya dan aku akan memiliki kesempatan untuk mempermalukannya di depan semua orang Arab”.

orang yahudi itu bertanya, “Imam Ali, katakan kepadaku tentang sebuah angka, yang ketika kita, membagi angka tersebut, dengan angka 1 sampai 10, jawabannya yaitu selalu bilangan bulat, dan bukan bilangan pecahan?”

Imam Ali (as.) menjawab, “hitunglah jumlah hari dalam setahun, dan kalikan dengan jumlah hari dalam seminggu, dan Anda akan memiliki jawaban Anda.”

lalu Orang Yahudi itu, menghitung jawaban Imam Ali (as), yang diberikan kepadanya.

Kemudian, ia menemukan hasilnya sebagai berikut:

- Jumlah Hari dalam 1 Tahun = 360 (kalender Arab)

- Jumlah Hari dalam 1 Minggu = 7

- hasil perkalian dari dua angka diatas = 360×7 = 2520

Sekarang buktikan …

2520 ÷ 1 = 2520

2520 ÷ 2 = 1260

2520 ÷ 3 = 840

2520 ÷ 4 = 630

2520 ÷ 5 = 504

2520 ÷ 6 = 420

2520 ÷ 7 = 360

2520 ÷ 8 = 315

2520 ÷ 9 = 280

2520 ÷ 10 = 252