nagiest

Memberi adalah sebuah komunikasi yang terbaik

nagiest

Cara terbaik dalam menasihati anak-anakmu adalah mencari tahu apa yang mereka inginkan dan lalu nasehatilah mereka bagaimana melakukannya

nagiest

Tidak ada yang sia-sia jika kita melakukan sesuatu untuk anak-anak. Mereka sepertinya tidak memperhatikan kita, mengalihkan pandangan dan jarang berterima kasih, tapi apa yang kita lakukan untuk mereka tidak pernah sia-sia

nagiest

Anda memiliki waktu seumur hidup untuk bekerja, Namun anak-anak hanya memiliki masa kecil sekali

nagiest

Anak terlahir ke dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasan, bawaan hidup ini jangan sekalipun didustakan

Minggu, 29 Juli 2012

Sayidah Zainab as, Perempuan Paling Sabar, melebihi Nabi Ayyub




Kendati Nabi Ayyub as terkenal sebagai orang yang sabar dan beragam musibah berat telah menimpanya, namun kesusahan dan kesedihan ini akhirnya berakhir dan kehidupannya lebih banyak dilalui dengan kesenangan.




Lebih sabar lagi dari Nabi Ayyub as adalah seorang yang kehidupannya dari kecil sampai tua dipenuhi dengan kesedihan. Ia adalah Zainab Kubra binti Ali bin Abi Thalib as, induk segala musibah. Di masa kecil ia menyaksikan segala kezaliman yang dilakukan terhadap ayah dan ibunya. Pasca itu ia sebagai perawat kepala ayahnya yang terbela, ia mencuci hati kakaknya Imam Hasan Mujtaba as yang hancur berkeping-keping dengan air mata. Ia menanggung segala musibah berat dalam tragedi yang sangat menyedihkan, yaitu peristiwa Karbala dan pada saat yang sama semua itu baginya tidak lain hanyalah keindahan.




Siapakah Zainab as?

Ia adalah putri Amirul Mukiminin Ali bin Abi Thalib as dan Fathimah az-Zahra as. Ia bernama Zainab dan dikenal dengan sebutan Aqilah Bani Hasyim dan Shiddiqah Shughra. Julukannya adalah Ummu Kultsum Kubra dan Ummu Abdillah. Berdasarkan riwayat masyhur ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 6 Hq. Ia dinamakan Zainab yang berarti perempuan yang cantik atau hiasan ayah.




Ilmu Sayidah Zainab as

Sayidah Zainab mendapat pendidikan wahyu di pangkuan Ali as dan Fathimah az-Zahra as. Meski ibunya meninggal dunia saat ia masih kanak-kanak, namun di masa yang tidak lama ini ia berhasil menukil hadis dari ibunya. Sanad khotbah Fadak sampai kepadanya dan tidak asing bagi siapapun bahwa penukilan hadis ini, dengan segala kefasihan dan keuniversalannya, menunjukkan kesempurnaan pertumbuhan dan pemahaman serta keilmuannya.




Pidato Sayidah Zainab as selama safari Karbala adalah bukti derajat keilmuan dan kesempurnaannya. Keilmuan yang membangkitkan semua orang sehingga pasca khotbah di Kufah Imam Sajjad as berkata kepada bibinya, "Anti Bihamdillahi Aalimah Ghairu Muallamah Wa Fahimah ghairu Mufahhamah." "Segala puji bagi Allah, Engkau adalah seorang wanita pandai tanpa diajar dan paham tanpa dipahamkan seseorang."




Pengorbanan dan jihad

Ketika Sayidah Zainab as merasa bahwa tanggung jawab besar jihad di jalan Allah berada di pundaknya. Ia meninggalkan segala harta kekayaannya dan siap mendampingi imam zamannya Husein as dengan penuh keberanian dan pengorbanan. Pasca syahadahnya Imam Husein as, ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga jiwa Imam Sajjad as. Oleh karena itu, di bawah kondisi yang paling sulit ia bertahan menghadapi para pezalim. Ia mempermalukan dan mengungkapkan kezaliman serta kejahatan mereka.




Induk Segala Musibah

Pasca peristiwa wafatnya Rasulullah dan Syahadahnya Sayidah Fathimah az-Zahra as, kehidupan Sayidah Zainab dilanjutkan di Kufah sampai ketika Ibnu Muljam dengan pedangnya yang dilumuri racun membela kepala ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib as. Syahadah ayah dan perpisahan dengannya betul-betul sulit bagi putrinya. Karena setelah wafat kakeknya Rasulullah Saw dan syahadah ibunya, hati Zainab bergantung pada ayahnya dan kasih sayang ayahnya-lah yang bisa menenangkan jiwanya yang berduka, namun kini duka perpisahan dengan ayah menambah segala dukanya selama ini. Ia menyaksikan pengkhianatan masyarakat dan konspirasi musuh yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap kakaknya Imam Hasan Mujtaba as.




Setelah menyaksikan perjanjian damai Imam Hasan as dengan Muawiyah, Sayidah Zainab as kembali ke Madinah bersama kakak-kakak dan keluarganya. Wanita pandai Bani Hasyim ini betul betul menyadari bagaimana masyarakat mengorbankan Imam maksum Hasan al-Mujtaba as demi cita-cita dan kemaun kotor mereka. Ia juga merasakan segala kepedihan yang dirasakan oleh Imam Hasan as dan menjadi saksi kesedihan dan syahadah beliau yang terzalimi. Bahkan penghinaan mereka terhadap jenazah Imam Hasan as. Betapa pedihnya hati Zainab menyaksikan dan menganggung semua ini.




Pembawa Pesan Karbala

Periode kehidupan Sayidah Zainab as yang paling gemilang adalah ketika ia mendampingi cinta dan syahadah di sisi Sayid as-Syuhada Imam Husein as.




Meski sejarah kehidupan beliau dari sejak lahir sampai awal keberangkatan Imam Husein as menuju Karbala bisa didapatkan di dalam sejarah secara terpisah-pisah dan masih banyak yang belum diketahui, namun tahun-tahun terakhir kehidupannya sejak ia mendampingi Imam Husein as di Karbala betul-betul jelas dan abadi dalam sejarah.




Bisa dikatakan bahwa keabadian nama Zainab as dalam sejarah terikat dengan kebangkitan Imam Husein as, sebaliknya keabadian kebangkitan Imam Husein as juga terikat dengan pesan Sayidah Zainab as. Karena salah satu sisi kebangkitan Imam Husein as yang paling jelas dan bisa dikaji bersumber dari pesan Sayidah Zainab. Sayidah Zainab as adalah perawi sejarah Kebangkitan Sayid as-Syuhada.




Aqilah Bani Hasyim bergerak bersama sejarah Karbala. Seluruh kejadian dan peristiwanya terkait dengan Sayidah Zainab Kubra as. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kalau sejarah Karbala ini menyangkut sebagian besar dari sejarah kehidupan Imam Husein as, ia juga menyangkut sebagian besar dari sejarah kehidupan Sayidah Zainab as.




Oleh karena itu, kehidupan Sayidah Zainab as tidak bisa dikaji tanpa menyertakan peristiwa Karbala. Meski sebagian dari peristiwa tahun 61 Hq terkait dengan aktifitas politik dan sosial Sayidah Zainab, namun banyak sumber yang menyebutkannya.




Tangisan Jibril atas Musibah Zainab as

Diriwayatkan bahwa setelah lahirnya Sayidah Zainab, Husein as yang masih berusia tiga sampai empat tahun mendatangi kakeknya Rasulullah Saw seraya berkata, "Allah telah memberikan seorang saudara perempuan kepadaku!" Mendengar ucapan itu Rasulullah Saw berubah menjadi sedih dan meneteskan air mata. Husein as bertanya, "Mengapa anda sedih dan menangis? Rasulullah Saw menjawab, "Wahai cahaya mataku! Dengan segera rahasianya akan jelas bagimu."




Sampai pada suatu saat ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Saw sambil menangis dan Rasulullah menanyakan sebab tangisannya. Malaikat Jibril menjawab, "Putri ini dari mulai lahir sampai akhir hidupnya senantiasa menghadapi musibah dan kesedihan. Terkadang ia terkena musibah perpisahan denganmu. Satu masa ia bersedih karena wafat ibunya. Kemudian bersedih karena syahadah saudaranya Hasan. Dan Musibah yang paling menyedihkan adalah musibah tragedi Karbala sehingga badannya membungkuk dan rambut kepalanya memutih."




Rasulullah Saw menangis tersedu-sedu dan menempelkan wajahnya yang penuh dengan air mata ke wajah Zainab. Sayidah Fathimah az-Zahra menanyakan sebab tangisan Rasulullah Saw. Rasulullah menjelaskan sebagian musibah yang akan menimpa Sayidah Zainab kepada Sayidah Fathimah as.




Sayidah Fathimah as bertanya, "Wahai Ayah! Apa pahala orang yang menangisi musibah yang menimpa putriku Zainab? Rasulullah Saw bersabda, "Pahalanya sama dengan pahala orang yang menangisi musibah yang menimpa Hasan dan Husein as. (Khashaish az-Zainabiyah, hal 155 Nasihk at-Tawarikh az-Zainab as) (IRIB Indonesia / ENH)

Sebagian Orang yang Tidak Dibunuh Imam Husein as di Karbala


Imam Sajjad as menceritakan kejadian aneh di hari Asyura. Beliau berkata:



 "Di hari Asyura ayahku membunuh sejumlah orang musuh. Namun sebagian dari mereka tidak dibunuhnya, meski berada dalam cengkeramannya. Saya tidak tahu apa rahasiannya. Setelah beberapa lama saya baru memahaminya ketika saya mencapai imamah (kepemimpinan).

Ternyata mereka yang dikasihani oleh Imam Husein as pada hari Asyura adalah orang-orang yang ayahnya adalah pecinta keluarga Rasulullah Saw. Poin penting di sini adalah ayah saya tidak ingin membunuh anak para pecintanya. Mereka lolos dari kematian berkat orang tuanya."

Apakah Anda Juga Takut Kepada Allah?

Seseorang bertanya kepada Imam Husein as, "Wahai putra Rasulullah! Apakah Anda sebagai hamba pilihan Allah juga takut kepada-Nya?

Imam menjawab, "Barang siapa di dunia takut kepada Allah dan menganggap dirinya senantiasa berada di hadapan-Nya, maka ia akan merasa aman dari ketakutan dan kegalauan di Hari Kiamat."

Rumah Balasan Allah

Imam Husein as pergi ke Karbala bersama para sahabatnya untuk melawan musuh. Di pertengahan jalan beliau bertemu dengan seseorang yang datang dari Kufah. Kepada orang itu Imam bertanya, "Hai hamba Allah! Bagaimana kabarnya penduduk Kufah dan Irak?"

Laki-laki itu berkata, "Wahai putra Rasulullah! Masyarakat sudah berkumpul untuk memerangimu. Kembalilah ke kota tempat tinggalmu karena Irak bukan tempat yang aman."

Imam Husein as berkata, "Kami datang ke kota ini atas perintah Allah. Oleh karenanya, segalanya akan terjadi atas Kehendak-Nya."

Kemudian beliau melanjutkan, "Kendati dunia adalah rumah yang gemerlapan, namun rumah balasan Allah (surga) lebih baik darinya. Bila badan diciptakan untuk mati, maka kematian di jalan Allah itu lebih baik." (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: "Sad Pand va Hekayat" Husein.

Imam Ali as dan Musafir Non Muslim



Pada hari itu udara kota Kufah sangatlah nyaman. Angin sepoi bertiup perlahan dari arah kota memberikan ketenangan bagi jiwa dan semangat manusia. Seorang musafir bergerak ke arah kota Kufah. Dia telah melewati perjalanan yang jauh untuk mencapai suatu tempat di sekitar Kufah dan kini ia merasa kelelahan. Dia berpikir sendirian, alangkah menyenangkannya jika dia mempunyai teman seperjalanan, supaya dia punya teman untuk berbicara dan tidak merasa lelah akan perjalanan tersebut. Ketika itu pula, tampak  sesosok tubuh dari kejauhan. Sang musafir merasa gembira dan berkata sendirian, "Aku akan bersabar sampai orang itu datang menghampiriku. Mungkin saja dia bisa menjadi teman seperjalananku."

Sosok dari kejauhan itu akhirnya mendekat. Ternyata seorang lelaki itu berwajah menarik dan bercahaya. Terlihat senyum terukir di bibir lelaki itu. Ketika keduanya berdekatan, mereka saling bertanya khabar. Ternyata, lelaki itu juga akan pergi ke Kufah. Sang musafir yang kesepian tadi merasa gembira karena kini dia memiliki teman seperjalanan.

Lelaki yang baru tiba itu tidak lain dari Imam Ali as. Tetapi, Imam Ali menyembunyikan identitasnya kepada musafir tersebut. Keduanya sama-sama meneruskan perjalanan. Mereka lalui perjalanan bersama itu sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Imam Ali as mengetahui bahwa teman seperjalanannya itu bukan Muslim. Namun, Imam Ali tetap memprlakukannya dengan baik, sampai-sampai lelaki non Muslim itu merasakan persahabatan dan kecintaan terhadap Ali as. Tutur kata dan akhlak Imam Ali sedemikian baiknya sehingga telah meninggalkan kesan kepada lelaki itu, sampai-sampai dia melupakan rasa lelahnya.

Dia lalu berhenti sejenak dan berkata kepada Imam Ali, "Sungguh menakjubkan, kebetulan sejam yang lalu aku memohon teman seperjalanan untuk menemaniku agar beratnya perjalanan ini tidak terasa. Lihatlah betapa Allah telah mengabulkan permintaanku. Sampai kini, aku tidak pernah menemui orang sebaik dan sepintar engkau dalam berbicara."

Imam Ali hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata lelaki ini dan  mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Perjalanan itu berakhir dengan dua arah. Satu jalan ke Kufah yang menjadi tempat tujuan Imam Ali as dan jalan kedua merupakan arah yang dituju lelaki non Muslim itu. Imam Ali tidak mengambil jalan ke arah Kufah dan terus berjalan mengikuti teman seperjalanannya. Lelaki itu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari hal tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menyadarinya dan bertanya, "Sahabatku, engkau telah salah memilih jalan, sewaktu di persimpangan tadi engkau seharusnya memilih jalan ke Kufah."

Imam Ali, "Aku tahu. Tetapi aku ingin mengiringimu sampai engkau menyelesaikan pembicaraanmu." Lelaki itu merasa takjub mendengar ucapan Imam Ali tersebut, lalu berkata, "Akhlakmu sungguh baik sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Sebutkanlah namamu dan apakah pekerjaanmu?"

Imam Ali menjawab, "Sahabatku, aku adalah Ali bin Abi Thalib." Lelaki non Muslim itu yang sudah sering mendengar nama Ali dan mengetahui dia adalah pemimpin umat Islam, amat terkejut. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Dia berkata sendirian, "Ya Tuhanku, sejak tadi hingga kini, ternyata aku sedang bersama khalifah umat Islam dan aku tidak mengetahuinya sama sekali.

Lalu, dia berkata kepada Imam Ali as, "Ketawadhu'an dan kebaikan akhlak Anda memang layak mendapat pujian. Apakah mereka yang dididik dengan ajaran Islam memiliki akhlak seperti Anda?"

Pada saat itu jendela ke arah cahaya dan hakikat terbuka di hadapan matanya. Imam Ali as kemudian menyampaikan ajaran Islam kepada musafir itu. Tidak berapa lama kemudian, dengan bimbingan Imam Ali, dia memeluk agama Islam dan bergabung dengan barisan kaum Mukmin. Dengan demikian, kebaikan, kelembutan, dan sifat baik Imam Ali as telah membuka hati lelaki non Muslim itu untuk menerima kebenaran ajaran Islam.

Rasulullah Saw bersabda, "Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini." (IRIB Indonesia)

Sabtu, 28 Juli 2012

Penemu Angka Nol...


Dunia Eropa / Barat dari dulu s/d sekarang sepertinya mengklaim bahwa Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Eropa / Barat tapi tahukah anda, sejatinya asal Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Timur Tengah yaitu Mesopotamia yang menjadi peradaban tertua di dunia.

Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat

Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.

Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya coba jika angka 0 (nol) tidak ditemukan coba? Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.
angka 0 (nol)
al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini.

Pembantaian Muslim Myanmar










Dimana Penerima nobel perdamaian Aung San Suu Kyi..? apakah ia sudah mulai tuli dan bisu...?
Dimana Media...? apakah terbunuh nya manusia sudah tidak penting lagi untuk di muat...?
Diamana Para Aktivis HAM...? yang selalu lantang membela kaum minoritas yang tertindas, Mungkinkah karena etnis Rohingya yang ditimpa kemalangan itu kebetulan beragama Islam — dan seperti kebanyakan kasus lain ketika umat Islam menjadi korban — maka para aktivis HAM menjadi tuli dan sariawan...?